Langsung ke konten utama

Rawon Jam 12 Tengah Malam

Pasar Blimbing Malang Tahun 1969
          Sekitar akhir bulan Januari menjelang Februari tahun 1969, aku mencari perguruan tingi guna melanjutkan belajar. Sebelum aku sampai ke kota Malang lebih dulu mengikuti pendaftaran di Surabya. Tetapi karena di kota Malang ternyata lebih mudah mencari kawan, maka aku memutuskan untuk tinggal di sana.
          Setelah beberapa bulan berada di kota Malang, aku mulai banyak mengenal anak-anak remaja disekeliling tempat tinggalku. Mereka akrap dan menyenangkan. Gaya bahasa Malang yang sering membalik kata, atau melafalkan kata yang dimulai dari huruf paling belakang, kupelajari lagi. Di tahun 1956 aku pernah tinggal juga di sana.
Kata Rokok, jika dibaca dari belakang akan menjadi “Kokor”. Tetapi, tidak demikian hukum pembalikan kata dalam bahasa Malang. Itu menjadi ciri Khas bagi anak-anak yang sok bergaya Malang, tetapi sebenarnya bukan asli Malang. Orang Malang asli akan mengatakan Rokok menjadi = Oker, bukan Kokor atau sejenisnya. Duwit menjadi “Raijo”, Kerja menjadi “Idrek” dan sebagainya.
Tetapi, yang akan kuceritakan bukan kota Malang dengan hukum pembalikan kata, atau keakrapan diantara kawan, melainkan fenomena malam di “Pasar Blimbing”.
Dengan berjalannya waktu dan semakin banyak teman, aku mengenal seorang lagi yang bernama “Ickhwan”. Ia pandai main Gitar, bila ia tidak sedang banyak pekerjaan, ia datang ke rumah Bu De-ku. Di situ aku tinggal selama 2 tahun.
Dari sore hari kami kumpul sambil ngobrol, kadang-kadang hingga jam 02 pagi. Kamarku menjadi semacam pos malam. Dari Catur, Gaplek dan Remi, dan di luar sana lainnya main Gitar.
Aktifitas malam itu sebenarnya juga butuh energi, di sinilah peran dari “Cak Ikhwan”. Beliau itu sebenarnya seorang Guru di sebuah sekolahan setingkat SLTP di komplek Angkatan Udara Abdurahman Saleh. Bila teman yang hadir hanya 4 – 5 orang saja, ia tidak segan mengajak kami untuk mengajak makan di malam buta itu ke Pasar Blimbing.
Di sana ada fenomena unik yang baru saja saya kenal. Tempat yang kami datangi adalah sebuah warung makan dengan menu Rawon. – Apa sih istimewanya? – Tidak ada yang istimewa dari segi makanannya. Yang istimewa justru warung tersebut, Warungnya. Jika kita datang mencari warung itu sebelum jam 12 tengah malam, yang kita lihat hanya tumpukan bangku dari kayu dan bambu, serta lokasi yang gelap gulita. Warung itu buka pada jam 12 tengah malam sampai pagi.
Sampai sekarang aku tidak pernah ingin tahu apa sebabnya, karena pasar Blimbing telah berubah total.
Di warung itulah Cak Wan atau Cak Ikhwan sering mengajak kami makan. Keterikatannya dengan kawan telah mengalahkan kepentingannya sendiri. Ia justru merasa senang jika dapat makan bersama dengan teman-temannya.
Kemudian hari aku baru tahu bahwa itu adalah salah satu identitas Pasar Blimbing Tempo Dulu dengan menu “RAWON JAM 12 TENGAH MALAM”.
Kini pasar Blimbing semakin ramai, dan tembus ke Dinoyo dengan salah satu jalan bernama Terusan Soekarno-Hatta. Bahkan setelah jembatan, jika belok ke kanan dapat sampai ke Selecta.

07/02/2011 12:38:10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Babylonia

Tulisan Sahabatku Tak Terbaca        Dari sekian banyak teman semasa SMA, teman yang bernama Tony Hendrartono, yang berasal dari Malang ini mempunyai kesan yang tak terlupakan. Ia familiar, mandiri dan tidak pernah usil kepada siapapun. Tetapi jangan sampai ada yang mencoba dia, itu pendapatku yang suatu saat ternyata terbukti.        Perilakunya yang murah senyum dalam setiap ucapan kata-katanya sama sekali berbeda saat ia mendapat gertakan dari orang yang tidak ia kenal. Tetapi yang ingin kuceritakan bukan tentang dirinya yang mempunyai karakter lembut tetapi keras ini.        Pada suatu hari Bapak Guru pengajar Bahasa Indonesia bernama Pak Timin, meminta kepada para siswa Klas 3 Sos-2 untuk menyediakan kertas dan mengikuti Ulangan Harian.        Dalam pengajarannya Beliau pernah mengajar kepada kami untuk mencatat Epos Mahabharata dan Ramayana. Kami harus mencatat ...

Punggung Pisau Komando

Aduh Betisku Salah seorang temanku di SMA berasal dari kota Malang. Bila ada hari libur ia kembali ke Malang dengan menggunakan transportasi Kereta Api dari Stasiun Kediri. Aku sendiri tidak tahu persis kapan cerita ini terjadi pada dirinya, apakah ia naik kereta api dari Kediri ke Surabaya kemudian ke Malang, atau sebaliknya. Atau ia lewat Blitar. Mengingat kejadiannya melibatkan seorang marinir, aku menduga cerita ini terjadi waktu ia berangkat dari Malang menuju ke Surabaya. Apakah yang telah terjadi? Ini kisahnya! Ia hanya mengatakan peristiwa yang terjadi selama berada di dalam gerbong tanpa menyebut dari mana ia berangkat dan saat itu berada di daerah mana. Dalam gerbong itu semua tempat telah terisi dan temankupun telah mendapatkan tempat duduk. Namun di pintu kereta ada sosok prajurit (Marinir) yang berdiri di sana dan sebentar-sebentar selalu melihat ke dalam. Yang saya sesalkan setelah ia menceritakan hal itu kepada saya adalah, mengapa ia tidak pernah berpikir atau ...