Senin, 21 Februari 2011

Kalimat Itu Bak Air Es Yang Meresap Ke Dalam Jiwaku


          Prap, kamu Ibu naikkan ke Klas 2.
Sejak pukul 01.55 dini hari Hari Selasa tanggal 22 Pebruari 2011, aku tak lagi dapat tidur. Udara mulai terasa panas, kipas angin sudah tak berguna sebagai alat pendinginan. Akhirnya aku bangun dan teringat sesuatu yang belum kuselesaikan. Motto-ku tetap seperti semula, aku akan tetap menuliskan apa-apa yang masih ada dalam ingatanku ketika dulu aku masih seorang anak remaja.      
Mata pelajaran di sekolah umum Tingkat Atas sejak Klas 1 lumayan banyak, kurang lebih ada 13 – 14 macam. Dalam kondisi yang demikian, sekarang atau jaman dulu sekalipun, seharusnya yang disebut siswa atau anak didik harus mempunyai banyak buku sebagai bentuk kemudahan dalam belajar. Jika hal ini dapat dicapai oleh para siswa, maka setidaknya akan menutup kekurangan informasi dari para Guru tatkala mereka belajar di Klas.
Keterangan dari Guru, Rumus, gambar percobaan IPA yang tidak dipahami atau terlewatkan dapat ditutup dengan membaca dirumah, dan berulang kali. Itulah ideal-nya.
Tetapi ternyata, hingga sekarangpun pada jaman internet, fasilitas itu tidak mudah didapatkan. Banyak yang mengenal Internet bukan untuk belajar. Sementara di sisi lain ada yang tidak dapat belajar karena tak sanggup memiliki fasilitas belajar. Cerita seperti inilah yang sempat menyentuh masa belajarku ketika di SLTA.
Sejak pelajaran awal dimulai telah kelihatan bahwa belajar di SLTA jauh lebih berat dari pada di SLTP, itu pasti. Makin banyak bahan pelajaran menuntut siswa belajar lebih giat. Tetapi semua itu bagiku sungguh bukan hal yang mudah, hingga pada suatu hari saat akan kenaikan ke Klas 2 terjadilah cerita nyata ini.
Pokok ceritanya adalah, seorang Ibu Guru yang mengajarkan Bahasa Jerman di sekolahku telah memanggilku. Pada pertemuan itu, beliau berkata bahwa nanti sore aku harus ke rumah beliau. Semula aku tidak tahu apa keperluannya. Dan begitu aku telah sampai ke tempat tinggal beliau itu lalu dipersilakan masuk, persoalannya menjadi jelas. Saat itu saya diberi soal ujian Bahasa Jerman yang lain dari pada yang diujikan di sekolah, untuk dikerjakan guna menutupi kekurangan nilai.
Aku tetap mengerjakan, tetapi apa yang dapat membantu diriku untuk mendapatkan nilai baik? Buku apapun yang berkaitan dengan pelajaran yang Ibu Guru berikan kepadaku, tidak satupun yang dapat kumiliki. Jika kubandingkan dengan harga beras saat itu adalah, harga 1 Kg beras Rp.60,- (enam puluh rupiah) dan tidak semua orang dapat membeli dengan harga tersebut. Sementara itu, harga buku pelajaraan Bahasa Jerman yang berjudul “Deutsche Sprachlehre” dengan cover warna kuning dengan huruf “D” besar berwarna merah, adalah Rp.700,- (tujuh ratus rupiah). Aku tidak sanggup membelinya.
Setelah waktu yang ditentukan untuk mengerjakan soal itu berakhir, Ibu tersebut mengambilnya dan memperhatikan jawaban-jawaban yang kubuat, dan aku menunggu dengan saraf tegang. Aku hampir dapat memastikan bahwa beliau akan kecewa, lalu akan mendapatkan nilai yang buruk karena kesempatan itu tidak juga dapat membantuku.
Lama beliau menimang-nimang kertas hasil ujianku tersebut. Seolah-olah beliau ingin menyelami dan mengetahui apa-apa yang ada di balik keburukan hasil ujianku tersebut. Namun “Tak Sepatah Kata-pun” beliau tanyakan kepadaku, hingga akhirnya beliau membolehkan aku pulang dengan sebuah kalimat yang selalu kuingat kemanapun aku pergi.
Beliau mengatakan “Prap, kamu Ibu naikkan ke Klas 2. Tetapi nanti kamu harus belajar lebih rajin”.
Perasaanku yang semula telah berada di pinggir jurang kehancuran itu, tiba-tiba berubah. Aku seakan dapat terbang melayang tinggi di awan, namun aku tak berani memperlihatkan luapan kegembiraan itu kepada beliau karena masih ada janji yang harus ditepati, yaitu “Belajar Lebih Rajin”.
DAN BAGIKU,KALIMAT BELIAU DI ATAS BAK AIR ES YANG AMAT SEJUK, MERESAP KE DALAM JIWAKU DAN DAPAT MENYEJUKKAN DIRIKU HINGGA KE UJUNG-UJUNG SARAF YANG KUMILIKI.
Aku telah naik ke Klas 2, meskipun hanya Klas 2 Sos (istilah jurusan IPS saat itu).
Kejadian ini, atau cerita ini aku bawa kemana aku pergi setelah aku terlepas dari bangku SLTA. Bahkan, aku sama sekali tidak sempat menemui Ibu Guru tersebut hanya untuk mengucapkan kata “Terima Kasih”.
Aku tidak tahu apakah beliau kembali lagi ke SLTA-ku dulu dan mengajar lagi di sana hingga waktu pensiun tiba, atau entah bagaimana? Tetapi kini aku dapat bersyukur, aku telah dapat mengucapkan rasa terima kasihku kepada beliau. Mungkin tidak berupa kata-kata, tetapi aku sering mengunjungi beliau dengan membawakan sedikit buah-buah segar, dan bercerita kepada Beliau bagaimana aku dulu dapat naik ke Klas 2.
Tahukan Anda kapan aku dapat menunjukkan rasa terima kasihku pada Ibu Guru tersebut? – Aku baru dapat menjumpai beliau setelah 44 tahun keluar dari SMA-ku. Hal itu terjadi karena sejak awal aku bekerja, selalu berada di luar Pulau Jawa, dan baru 3 tahun menjelang aku pensiun aku dapat kembali. Itupun tidak di Jawa Timur, melainkan di Jakarta.
Beliau adalah Ibu Sumirah, pengajar Bahasa Jerman di sekolah-ku dulu, hingga dalam hatiku beliau Bak Ibu Kedua-ku karena perhatiannya yang amat besar kepadaku. Terima Kasih Ibuku.
Mojokerto, 22 Pebruari 2011, jam 01.55.  

Sabtu, 19 Februari 2011

Punggung Pisau Komando

Aduh Betisku
Salah seorang temanku di SMA berasal dari kota Malang. Bila ada hari libur ia kembali ke Malang dengan menggunakan transportasi Kereta Api dari Stasiun Kediri. Aku sendiri tidak tahu persis kapan cerita ini terjadi pada dirinya, apakah ia naik kereta api dari Kediri ke Surabaya kemudian ke Malang, atau sebaliknya. Atau ia lewat Blitar.
Mengingat kejadiannya melibatkan seorang marinir, aku menduga cerita ini terjadi waktu ia berangkat dari Malang menuju ke Surabaya. Apakah yang telah terjadi?
Ini kisahnya!
Ia hanya mengatakan peristiwa yang terjadi selama berada di dalam gerbong tanpa menyebut dari mana ia berangkat dan saat itu berada di daerah mana. Dalam gerbong itu semua tempat telah terisi dan temankupun telah mendapatkan tempat duduk. Namun di pintu kereta ada sosok prajurit (Marinir) yang berdiri di sana dan sebentar-sebentar selalu melihat ke dalam. Yang saya sesalkan setelah ia menceritakan hal itu kepada saya adalah, mengapa ia tidak pernah berpikir atau mempertanyakan walau dalam hati, siapakah yang selalu diawasi oleh prajurit tersebut.
Dalam situasi demikian itu, kenakalan remajanya berlangsung terus. Ujung sepatunya dipergunakan untuk mengganggu penumpang di depannya yaitu seorang wanita muda bersama seorang Balita. Setiap kali wanita itu menengok ke belakang, temanku pura-pura tidak melihat. Lalu diulanginya lagi kakinya mendorong-dorong ke depan.
Setelah berlangsung cukup lama, prajurit yang berdiri di depan pintu tersebut berpindah tempat agak ke dalam, dekat dengan posisi si wanita depan temanku itu. Perlahan-lahan ia bergeser makin dekat dengan posisi temanku.
Pada ulah yang entah keberapa, tiba-tiba si wanita berdiri sambil melihat kepada temanku itu yang menundukkan kepalanya pura-pura tidak mempedulikan. Tetapi ulahnya itu justru membuat ia harus berteriak nyaring sambil memegangi betisnya, dan pindah ke gerbong lainnya.
Ternyata prajurit muda itu telah memberinya pelajaran pahit. Dengan cekatan ia mencabut bayonet, dan dengan punggung pisau komando itu dipukulnya betis temanku sekuat tenaga.
Apa mau dikata, temanku menjerit “Aduuh Kakikuuu” dan sambil terpincang-pincang ia pindah tempat. Kenakalannya telah mendapatkan buah yang amat pahit. Betisnya beradu dengan Punggungnya Pisau Komando.
Ketika ia selesai bercerita, aku menjawab: Wis Kapok tah?
Ia hanya tersenyum seperti kebiasaan yang dilakukannya.
09/02/2011 18:21:35

KETIKA AKU MENDENGAR KATA BRIMOB

Markas Brimob Agak Jauh dari Sekartaji.
Semua ini memang kisah nyata yang menimpa diriku pada saat aku usia 17 tahun, dan berlangsung didepan penglihatanku. Kadang-kadang aku juga terlibat di dalamnya. Aku tak pernah berpikir bahwa cerita masa remajaku justru berkisar secara Sekolah Centris. Tetapi apa boleh buat, keindahan cerita masa remaja justru ada di sana. Jiwaku sedang tumbuh, aku ingin melihat apa saja yang aku bisa lihat dan lakukan. Termasuk menikmati bergurau bersama kawan disepanjang perjalanan pulang dari sekolah.
Sama sekali aku bukan mengarang cerita ini, aku hanya me-rewin dan memceritakan agar orang mengetahui sebelum aku lupa sama sekali.
Semua orang di Kediri mengetahui bahwa jika seseorang berjalan dari Taman Sekartaji menuju ke Barat, maka suatu saat akan melihat Markas Brimob yang luas sekali disisi kanan jalan.
Yang menjadi ceritaku kali ini adalah saat kami berangkat ke sekolah, dan masih amat pagi. Dari pertigaan pasar, seorang demi seorang bergabung dengan perjalananku, hingga akhirnya berjumlah 4 orang.
Dalam perjalanan menuju ke sekolahan itu kami saling mengolok, saling mendorong dan tertawa terus menerus hingga ke jalan disamping Taman Sekartaji dan Markas Denpom sekarang.
Terus terang kami bergurau hanya dengan teman-teman sendiri yang memang telah akrap. Tak pernah kami mengganggu orang lain, apalagi jika ia seorang anggota TNI. Sungguh itu adalah ulah yang tidak tepat. Menurut istilah dalam Cerita Silat karangan Kho Ping Hoo, justru disebut “Mencari Setori” atau “Mencari Jalan Kematian”.
Tetapi di saat itu, terjadi sesuatu yang sama sekali tidak kami inginkan. Dalam berjalan kaki berempat, aku berada pada posisi ke 3 dari pinggir jalan. Posisi ke 4, yang paling luar, adalah seorang teman bernama Mohammad Dhofir.
Pada saat dorongan yang begitu kuat dan tiba-tiba dari salah seorang teman yang berada paling dalam terjadi, tak ada lagi yang dapat kulakukan kecuali aku merangkul Dhofir agar tak jatuh. Tetapi Dhofir sendiri justru ikut jatuh.
Bersamaan dengan itu ikut jatuh juga seseorang naik sepeda yang sedang mendahului kami dan berada pada posisi satu garis dengan kejatuhan kami.
Orang yang mengenakan seragam putih atas bawah itu bangun, dan membentak kami serta menyuruh kami menunggu di tempat karena ia akan meminta bantuan. Ketika ia bicara kami hanya diam tidak bersuara karena merasa bersalah.
Tetapi begitu orang tersebut pergi dan kami mendengar kata Brimob, dengan spontan kutangkap tangan temanku dan kuajak melarikan diri sambil berteriak: “ Lari Fiiiir!!!. Dan untungnya, markas Brimob cukup jauh dari Taman Sekartaji.
Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar dari teman yang dua orang lainnya, bahwa si orang yang jatuh dari sepeda adalah betul-betul anggota Brimob bagian kesehatan. Oh my God!
Hari itu aku dan Dhofir tak masuk ke sekolah meskipun sekolahanku tinggal beberapa langkah lagi dari Taman Sekartaji. Itu dia.

09/02/2011 12:28:05

Minggu, 06 Februari 2011

Rawon Jam 12 Tengah Malam

Pasar Blimbing Malang Tahun 1969
          Sekitar akhir bulan Januari menjelang Februari tahun 1969, aku mencari perguruan tingi guna melanjutkan belajar. Sebelum aku sampai ke kota Malang lebih dulu mengikuti pendaftaran di Surabya. Tetapi karena di kota Malang ternyata lebih mudah mencari kawan, maka aku memutuskan untuk tinggal di sana.
          Setelah beberapa bulan berada di kota Malang, aku mulai banyak mengenal anak-anak remaja disekeliling tempat tinggalku. Mereka akrap dan menyenangkan. Gaya bahasa Malang yang sering membalik kata, atau melafalkan kata yang dimulai dari huruf paling belakang, kupelajari lagi. Di tahun 1956 aku pernah tinggal juga di sana.
Kata Rokok, jika dibaca dari belakang akan menjadi “Kokor”. Tetapi, tidak demikian hukum pembalikan kata dalam bahasa Malang. Itu menjadi ciri Khas bagi anak-anak yang sok bergaya Malang, tetapi sebenarnya bukan asli Malang. Orang Malang asli akan mengatakan Rokok menjadi = Oker, bukan Kokor atau sejenisnya. Duwit menjadi “Raijo”, Kerja menjadi “Idrek” dan sebagainya.
Tetapi, yang akan kuceritakan bukan kota Malang dengan hukum pembalikan kata, atau keakrapan diantara kawan, melainkan fenomena malam di “Pasar Blimbing”.
Dengan berjalannya waktu dan semakin banyak teman, aku mengenal seorang lagi yang bernama “Ickhwan”. Ia pandai main Gitar, bila ia tidak sedang banyak pekerjaan, ia datang ke rumah Bu De-ku. Di situ aku tinggal selama 2 tahun.
Dari sore hari kami kumpul sambil ngobrol, kadang-kadang hingga jam 02 pagi. Kamarku menjadi semacam pos malam. Dari Catur, Gaplek dan Remi, dan di luar sana lainnya main Gitar.
Aktifitas malam itu sebenarnya juga butuh energi, di sinilah peran dari “Cak Ikhwan”. Beliau itu sebenarnya seorang Guru di sebuah sekolahan setingkat SLTP di komplek Angkatan Udara Abdurahman Saleh. Bila teman yang hadir hanya 4 – 5 orang saja, ia tidak segan mengajak kami untuk mengajak makan di malam buta itu ke Pasar Blimbing.
Di sana ada fenomena unik yang baru saja saya kenal. Tempat yang kami datangi adalah sebuah warung makan dengan menu Rawon. – Apa sih istimewanya? – Tidak ada yang istimewa dari segi makanannya. Yang istimewa justru warung tersebut, Warungnya. Jika kita datang mencari warung itu sebelum jam 12 tengah malam, yang kita lihat hanya tumpukan bangku dari kayu dan bambu, serta lokasi yang gelap gulita. Warung itu buka pada jam 12 tengah malam sampai pagi.
Sampai sekarang aku tidak pernah ingin tahu apa sebabnya, karena pasar Blimbing telah berubah total.
Di warung itulah Cak Wan atau Cak Ikhwan sering mengajak kami makan. Keterikatannya dengan kawan telah mengalahkan kepentingannya sendiri. Ia justru merasa senang jika dapat makan bersama dengan teman-temannya.
Kemudian hari aku baru tahu bahwa itu adalah salah satu identitas Pasar Blimbing Tempo Dulu dengan menu “RAWON JAM 12 TENGAH MALAM”.
Kini pasar Blimbing semakin ramai, dan tembus ke Dinoyo dengan salah satu jalan bernama Terusan Soekarno-Hatta. Bahkan setelah jembatan, jika belok ke kanan dapat sampai ke Selecta.

07/02/2011 12:38:10

Ibu Guruku Ketus Tapi Cantik

“BILA KEMBALI”
Mengenang Ibu Guruku nan cantik jelita, ketus ketika marah, familiar, bersahabat dengan para siswa dan satu lagi,dikala beliau sedang menangis nampak semakin cantik. Garis matanya merah dengan air mata yang nyaris jatuh menetes di pipinya, namun cepat2 beliau memalingkan muka dan memungut sehelai sapu tangan dari dalam tas untuk menyeka lelehan air mata. Dengan suara yang nyaris melengking karena desakan emosi dalam dirinya, dikeluarkannya perintah absolute pada hari itu untuk membuat cerita pendek sebanyak 2 (dua ) halaman ! Ibu MARTINI , begitu nama yang kami tahu dan sangat kami hormati .  
      
       Ini cerita tentang sebuah judul lagu di tahun 1960an dan cerita dari seorang anak kecil yang saat itu sedang duduk di bangku sebuah SLTP di Kediri . Ceritanya dimulai ketika ia naik ke klas 3 dari klas 2/C , begitu ia memulai menuturkan apa yang dianggapnya sebagai sesuatu kenangan yang hampir tak terlupakan.  
Di klas 3 tersebut ia pernah bertemu  dengan seorang Ibu Guru yang mengajar Bahasa Indonesia . Bukan maksudnya mengatakan yang baik atau buruk tentang Ibu Guru itu, tetapi ia ingin kenangan di bangku SMP itu ada yang mau menuliskan sehingga ia dapat membaca ulang lagi seperti tatkala ia mengalaminya diwaktu dulu ia masih duduk di bangku  SMPN 2 Kediri.
Semua ini ia lakukan karena ia sudah mulai lupa2 ingat dengan kenangan2 itu alias menjadi anggota PenDaIng (Penurunan Daya Ingat) di usia enampuluhan. Sayang rasanya jika harus terlupa sama sekali, apalagi berkenaan dengan Ibu Guru yang hanya bertemu sebentar saja.
Inilah dia, lagu Bila Kembali yang dibawakan oleh Penyanyi Yoke Simatupang , dengan Pencipta lagu  Jules Fioole, dengan Lirik : sbb.

Daku sunyi tiada kasih, Sedih rasa di hati ,Luka hati tak terperi,Kekasih telah pergi
REFF: Lamunan melayang Tinggi di awan Harapan tiada Hidupku merana
Tinggallah daku sendiri, Hidupku tak berarti, Kasihku bila kembali , Kukan tetap menanti.

       Lagu ini menjadi favorite Ibu Guruku yang paling cantik , ketus kalau sedang marah namun familiar. Meskipun beliau ketus tetapi entah apa sebabnya , tetap saja beliau mengajar penuh semangat kepada kami yang masih kanak2 dengan bimbingan seperti orang tua kami masing2. Ini keistimewaan beliau., “IBU MARTINI”.  I’ll never forget U Mom !
Kami mendapatkan Ibu Guru bahasa Indonesia ini ketika duduk di  klas III C kira2 di pertengahan tahun 1964. Setelah itu Yopie dan beberapa anak lainnya dipindahkan ke klas III A. Kata Yopie, kemungkinan beliau memang hanya mengajar di klas 3. Begitu yang diceritakan kepada saya .

Beliau ini (kalau Yopie tak salah ingat) adalah isteri dari Guru kami yang lain di SMPN 2 yaitu Bapak Mulyono ( pengajar Ilmu Alam) hingga klas 3, atau justru baru mulai. Beliau juga sosok Bapak Guru yang sangat kami hormati , dan sering bergurau dengan teman2 Klas 3 lainnya. Bahkan pada saat sendau gurau itu mencapai puncaknya, beliau bisa tertawa hingga air matanya menitik keluar. Itu menjadi bukti sementara, betapa keakrapan beliau dengan murid2nya .Tidak suka marah sih, dan cenderung mengangkat semangat belajar muridnya dengan adegan2 yang lucu.
Antara lain, Pak Mul ( begitu panggilan akrapnya), jika menyuruh siswa cowok maju ke depan dan tidak bisa menjawab pertanyaannya, siswa itu disuruh meletakkan dagunya di atas genggamannya lalu ditumbuk dari bawah. Jika siswi, maka telapak tangannya dibuka dan dagu siswi itu diusapnya dengan mesra ha ha ha ! Kami tidak pernah menaruh curiga apa2, hanya seloroh yang segar saja.
       Profil Ibu Martini lain lagi. Beliau pendiam ( anggapan sementara), karena tidak lama kami berjumpa dengan beliau. Sungguh sangat sebentar ! Postur tubuh yang tiggi , tidak gemuk, langsing , wajahnya putih berseri , suaranya nan merdu dsb. Busana yang paling saya ingat ya ketika beliau marah2 itu, mengenakan kebaya warna hijau  dengan kain ala RA Kartini, bercorak batik dengan warna putih, pergilah beliau mengajar . Begitu celetuk Yopie.
Nah yang saya ingin kenang kembali adalah ketika Ibu Guru kami yang cuantik tersebut masuk klas dengan marah2, dan dengan wajah merona merah yang tampak di garis mata beliau, antara marah atau bekas menangis, entah mana yang betul. Air matanya yang menggantung di garis mata bagian bawah bagai butiran2 berlian yang ber-kilat2 tertimpa cahaya matahari nyaris menetes ke pipi beliau ketika beliau duduk di meja guru.
Dengan gerak sangat per-lahan2 untuk menghilangkan kecurigaan kami beliau memalingkan wajahnya. Kemudian men-cari2 sesuatu ke dalam tas kerjanya dan menarik sehelai saputangan untuk mengusap berlian2  cair yang tumpah dari mata beliau yang sudah tak terbendung itu. Sungguh adegan yang sangat colossal dan indah untuk direkam jika saja saat itu Yopie punya sebuah handicam, katanya. Sungguh sangat mengharukan.
Dengan nada suara yang melengking tinggi bekas menangis atau menahan rasa sesak di dada beliau,  kami diperintahkan mengeluarkan kertas tulis dan menulis cerita pendek 2 halaman . Lalu tanpa membuka suara apapun kami melaksanakan perintah  absolute itu (ini cuma istilah Gue) . Namun hati kami bertanya   - Wahai Ibunda yang kami cintai, mengapa engkau  menangis di saat itu, adakah beban yang sangat berat sedang engkau derita dan rasakan ? Kelihatannya sedemikian itulah kemelut yang sedang engkau hadapi , dan kini tersirat di wajahmu yang sangat kami hormati ! Sungguh wajahmu di kala itu memancarkan aura kemarahan dan kekesalan yang amat sangat besar . Kami anak2 yang baru berusia 15 tahun itu hanya tahu dengan me-raba2 seperti balita  kehilangan botol minumnya. Namun dalam hati  kami menduga pastilah My Mom just has a Big Trouble dan kami sungguh tak tahu apapun !
Kini kami-pun tak tahu dimana beliau berada ?
       Di suatu hari, kami ingat sekali Ibu Kita nan jelita ini pernah mengeluarkan pertanyaan kepada para siswa: “ siapa yang hafal lagu Bila Kembali tolong tuliskan untuk Ibu.” – Begitu pintanya kepada kami. – Aku diam saja mengingat banyak siswi yang aku yakin juga tahu lagu tersebut. Maklum lagi di peringkat atas ( one of the top ten ) gitu loh !
Yang membuat kami ber-tanya2 adalah, ketika hari2 berikutnya kami tak pernah melihat beliau lagi hingga kami2 selesai menjalani ujian akhir tahun. Sejak kami diminta menuliskan lagu Bila Kembali untuk beliau itu, sejak kami disuruh membuat karangan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia  sebanyak 2 halaman itu, sejak beliau marah2 hingga  garis matanya terlihat merah dan sedikit bengkak,  kami tak pernah lagi melihat beliau.
Ketika hajatan akhir tahun setelah ujian akhir dimana SMPN 2 Kediri menggelar acara wayang kulit semalam suntuk  dimana  aku-pun tak datang ( aku baru datang esok paginya) , dan ketika itu aku berjumpa dengan teman2 putri seperti Sri Yekti Rahayu dan  Niken keesokan harinya , kami juga tidak bicara masalah kemana Ibu Kita itu pergi meninggalkan kami. No news and no one tell us about her.
       Aku tidak hadir dalam acara tutup tahun ajaran karena  aku bukan siswa yang berprestasi tinggi, malu ah !. Keberhasilanku hanya karena ada motto semua siswa harus lulus . Begitupun di SMAN, dan seterusnya pendidikan ke jenjang S1 aku biayai sambil bekerja di sebuah kota di Kalimantan Timur, 10 (sepuluh ) tahun sesudah aku lulus SMA di th 1968.
Kembali kepada lagu Bila Kembali. Mengapa Ibu Guruku seakan terperangkap dengan kalimat “ Daku sunyi tiada kasih “ ?. Itukan hanya lirik lagu pop yang sedang laris di tahun 1965an saja ! Apakah itu begitu penting bagi Beliau , atau betul2 Beliau sedang dalam keadaan seperti makna yang tersirat di sana ?. Sedih rasa di hati , kemudian hati luka tidak terperi. Dan , kami yang berada di hadapanmu hanya bengong, kaya boneka Dacochan yang tak tahu harus berbuat apa ketika tuannya lagi deep crying .
Jika memang keadaan itu yang sedang engkau alami saat itu, kami sungguh ikut bela sungkawa.  Wahai Ibundaku, deritamu pastilah amat berat, hal itu kukatakan karena lirik sambungannya mempunyai kualitas derita yang lebih berat . – Kekasih pergi , Lamunan melayang tinggi di awan , harapan tiada, hiduppun merana , tinggal sendirian, hidup menjadi tak berarti dst. Aku-pun tak dapat meneruskan mimpi buruk itu, so what happen ?.  
Jika mengingat sikon yang demikian maka kami hampir  yakin bahwa Ibu Guruku itu memang lagi big trouble alias BT. - Yopie, lu jangan terlalu serius ah kataku. – O tidak, itu yang aku lihat semua saat itu, kata Yopie. Sekali lagi andai aku punya handicam di era 1965 itu, pasti adegan itu aku rekam, dan begitu maunya baru lu percaya kan ?. Kata Yopie memprotes padaku dan kemudian melanjutkan ceritanya . –
Hanya saja amat keterlaluan bila beliau yang penuh perhatian kepada kami , penuh dedikasi menurut anggapan siswa2nya , tetapi di tempat lain ia justru harus tidak mendapatkan perhatian yang semestinya dari orang yang dikasihi, malah ditinggalkan. Begitu kan , lirik lagu Bila Kembali ?.
       Saat ini di tahun 2008 bulan Oktober tgl.13 hari Senin,  setelah 44 tahun kemudian sejak Yopie kecil duduk di bangku SMPN 2, ia mengaku  merasa kehilangan suluh untuk menemui guru2 di SMP dan SMA-nya.
Kadang2 ia meneteskan air matanya jika mengingat waktu itu. Tidak bisa ikut banyak kegiatan karena keterbatasan, termasuk keinginanannya untuk bertemu dengan gurunya di SMPN 2 Kediri, mungkin kalau toh bisa berjumpa, hanya nisan bisu yang dapat dilihatnya.
Kasihan lu Yop, kataku !.Yah waktu berlalu begitu cepat, tak mungkin dihentikan hanya untuk sekedar menengok hari2 lalu . Yopie  sendiri baru berhasil setelah merantau selama 30 tahun, dan setelah pensiun kini kembali gembel lagi, he he . Begitu ada keberhasilan menghampiri dirinya , semuanya telah habis ditutup oleh waktu yang melesat sangat cepat (times like the wind, goes a hurrying bye, and the hours just fly) begitu kata Yopie yang tak bisa bahasa Inggris itu menirukan lagunya John Rowles .
Aku mula2 masuk SMPN 2 Kediri di klas I/C , itu tuh bangunan yang di sebelah barat, dekat wc, sumur dan pohon2 pisang kepok. Waktu itu (1962 – 1965 SMPN 2 ada di desa Pocanan). Begitu Yopie mengakhiri kaleidoscope nya di tahun 1964 hingga 1965 sambil berseloroh dan minta tolong padaku untuk mengirimkan tulisan ini ke alamatnya.
Ia ceritakan pula di saat2 mau pergi, tambahkan di tulisanmu aku menjadi orang yang mengabdi di Dep.Keuangan sejak 1974 hingga berakhir di tahun 2005 .       
       Kini Yopie entah di mana,  ia pergi setelah tahu idenya ada yang mau menuliskan, dan ia pergi membawa salinannya. Ia berpesan jika ada kesempatan berjumpa lagi dan ia ada uang, ia akan menghubungi lewat handphone , begitu katanya.    
Sebagai penutup , salam dari Yopie ex Staff Ditjen Anggaran era 2002 sampai 2005, buat adik2 SMPN2 Kediri di era 2008 – 2009 , bye ! Belajar yang rajin agar jadi orang besar kelak, OK ?

Jakarta, Senin, tanggal 13 Oktober 2008.

Sabtu, 05 Februari 2011

Kebahagiaan Dalam Hati

Pelipur Lara Di Hari Tuaku
          Setelah berhenti bekerja dari mengabdikan diri kepada tanah tumpah darahku ini, aku tak lagi meneruskan bekerja dan bekerja. Terus terang pisik telah mengalami banyak kekurangan. Sudah mencoba beberapa cara untuk mendapatkan tambahan biaya hidup, namun kurang berhasil dan kurang beruntung. Hal demikian tidak sepenuhnya menjadi beban pikiranku. Aku berusaha melihat lingkungan di sekitar tempat tinggalku, agar aku mendapat pelajaran yang baik.
          Ternyata apa yang orang katakan bahwa “Di atas Langit ada Langit” itu betul. Pernyataan betul dariku tidak berarti aku bisa terbang dan melihat atau berjalan-jalan di tempat itu, melainkan timbulnya kesadaran bahwa hidup ini tidaklah melulu bekerja dan mencari kekayaan. Itu pendapatku dan untuk diriku sendiri.
          Jika hal demikian itu ternyata berkesan ada keputus-asaan, saya tidak putus asa melainkan melihat kenyataan. Ini amat perlu bagi manula seperti diriku. Jadi, aku harus mencari OBAT untuk Jiwa dan Ragaku ini melalui sesuatu yang dapat menyenangkan diriku sendiri, selain mendapatkan uang. Yaitu dengan Olah Raga atau menuliskan apa-apa yang dulu pernah terekam dalam ingatanku. Menurut pendapatku, itu hal yang baik.
          Kali ini, aku menuliskan sesuatu tentang kegiatan olah-raga yang dapat diikuti oleh para Manula, yaitu Tennis Lapangan. Dengan begitu aku telah melakukan 2 hal, Olah Raga dan menulis.
          Yang ingin kuceritakan adalah sebuah usaha dan keuletan di lapangan tennis bersama partner mainku.
          Saat itu aku cukup lama menunggu teman-teman lain datang ke lapangan. Tak pernah kuduga bahwa pagi hari Sabtu itu, yang datang lebih awal adalah mereka yang secara pisik dan kemampuan adalah lawan berat bagiku. Usia lebih muda, dan ketrampilannya lumayan bagus. Ketrampilan dapat kulayani, namun kecepatan dan daya tahan pisik aku kalah jauh.
          Pada kondisi seperti itu, tidak dapat dihindari lagi bahwa tanpa kesulitan lawanku meraih Game demi Game hingga score-nya menjadi 5 – 1 untuk lawanku.
          Kekalahan ini kurenungkan, aku mengoreksi kesalahan-kesalahanku yang dimanfa’atkan oleh lawan. Forehand sering keluar, backhand tak bertenaga, service ball sering nyangkut dan lain – lain.
          Menyadari itu semua, aku mengubah service dan pengembalian bola dari lawan. Bola forehand yang semula kukembalikan dengan topspin ku-ubah menjadi forehand yang underspin. Backhand yang semula underspin ku-ubah menjadi flat ke arah backhand lawan dengan bola-bola agak tinggi.
          Perubahan ini ternyata berpengaruh besar pada lawanku. Mereka tidak lagi dapat mengembalikan bolaku dengan smashnya, sementara itu backhand return-nya akan menjadi umpan smash yang bagus sekali bagi partnerku yang berada di sisi kanan.
          Irama permainan ini berlangsung terus hingga secara perlahan tapi pasti aku mulai mengejar. Dari 5-1 aku meraih 1 Game menjadi 5-2 (masih tetap lawanku yang memimpin). Kemudian satu game diraih lawan menjadi 6-2. Permainan belum selesai, karena kesepakatan selesainya permainan adalah siapa yang meraih 8 Game lebih dulu.
          Tetapi sungguh aneh, dan apa yang terjadi pada lawanku akupun tidak berusaha memikirkannya. Setelah ia mencapai kemenangan 6-2, tidak satu game-pun yang mereka dapatkan. Dari posisi 6-2 untuk mereka, lambat namun pasti aku mengejar menjadi 6-3, 6-4, 6-5, 6-6, 6-7 dan akhirnya 6-8.
          Inilah kegembiraan yang jarang kuperoleh, dan ternyata ini lebih menyenangkan hatiku dari pada lainnya. Ngecap? – Bukan! Aku bahagia! Kebahagiaan dalam hati itulah yang lebih kubutuhkan.
          Akhirnya, dari kejadian itu aku menjadi tahu dan aku menggurui diriku sendiri bahwa “ADA KEBAHAGIAAN DALAM HATI SELAIN MENGGENGGAM SETUMPUK UANG”. Itu dia!

06/02/2011 6:14:17